Kata pengantar
Puji syukur atas kehadirat Allah
yang maha kuasa atas Berkat Rahmat dan Hidayahnyalah sehingga saya dapat menyelesaikan ARTICLE
ini yang ber Tema “Perawatan luka ” dan
adapun judul yang saya angkat yaitu luka “Decubitus”
.
Dalam Article ini pertama-tama
menyajikan konsep dasar anatomi dan fisiologi
kulit dan fisiologi penyembuhan luka, kemudian membahas konsep dasar
berdasarkan konsep lukanya, dan perawatan yang mencakup diagnose keperawatan dan intervensi.
Manfaat dari Article “Perawatan luka Decubitus” ini adalah sebagai pemehaman bagi perawat
khususnya dalam mengenal beberapa jenis luka dan penatalaksanaanya.
Setelah membaca Article ini dengan seksama di harapkan pembaca mudah
memahami dan mengaplikasikannya dalam praktik klinik keperawatan.
Dalam penulisan Article ini tentunya
masih banyak kekurangannya baik dari segi isi materi maupun dalam penampilannya
, penulis sangat mengharapkan kritikan dan masukan dari pembaca untuk perbaikan
pada edisi selanjutnya
Penulis
Daftar isi
Kata pengantar ........................................................................................................................
Daftar
isi
BAB1
PENDAHULUAN.....................................................................................................................
A.
Latar
Belakang...............................................................................................................
B.
Rumusan
Masalah.........................................................................................................
C.
Tujuan
..........................................................................................................................
BAB II
KAJIAN PUSTAKA................................................................................................................
Pengantar
Anatomi dan Fisiologi Kulit.......................................................................................
Fisiologi
Penyembuhan Luka.....................................................................................................
a.
Tipe
Penyembuhan Luka...............................................................................................
b.
Fase
Penyembuhan Luka...............................................................................................
Faktor yang Mempengaruhi
Penyembuhan Luka.......................................................................
Luka Decubitus
1.
Definisi................................................................................................................................
2.
Etiologi ..............................................................................................................................
3.
Fatofisiologi.........................................................................................................................
4.
Manifestasi
klinis.................................................................................................................
5.
Pengkajian...........................................................................................................................
6.
Diagnose
keperawatan ........................................................................................................
7.
Intervensi
............................................................................................................................
Perawatan
Luka Dekubitus........................................................................................................
1.
Debridement
.................................................................................................................
2.
Dressing
........................................................................................................................
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan……………………………………………………………………………………………
B.
Saran……………………………………………………….………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Luka
decubitus , sinonimnya adalah pressure ulcer, bed sores, atau pressure sore.
Luka decubitus adalah suatu area yang terlokalisir dengan jaringan mengalami
nekrosis yang biasanya terjadi pada bagian permukaan tulang yang menonjol,
sebagai akibat dari tekanan dalam jangka
waktu lama yang menyebabkan
penimgkatan tekanan kapiler.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana Anatomi dan Fisiologi
Kulit?
2. Bagaimana Fisiologi Penyembuhan
Luka?
3. Bagaimana Faktor yang
Mempengaruhi Penyembuhan Luka?
4. Apa itu Luka Decubitus?
5. Bagaimana Perawatan luka
Decubitus?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui Anatomi dan Fisiologi Kulit.
2.
Untuk
mengetahui Fisiologi Penyembuhan Luka.
3.
Untuk
mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Perawatan Luka.
4.
Untuk
mengetahui tentang Luka Decubitus.
5.
Untuk
mengetahui Perawatan Luka Decubitus.
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
PERAWATAN LUKA
DECUBITUS
1. ANATOMI
DAN FISIOLOGI KULIT
Kulit merupakan organ yang cukup
luas yang terdapat di permukaan tubuh, dan berfungsi sebagai pelindung
untuk menjaga jaringan internal dari
trauma, bahaya radiasi ultraviolet temperature yang ekstrim, toksin dan
bakteri.
Kulit terdiri dari beberapa
lapisan; epidermis, dermis dan lapisan jaringan subkutaneus.
EPIDERMIS
Epidermis
adalah erupakan lapisan bagian luar kulit. Ketebalan dari dari epidermis ini
bervariasi tergantung pada tipe kulit. Pada bagian epidermis terdapat 5(lima) lapisan mulai dari bawah sampai ke
atas yaitu stratum basale atau
germinativum. Stratum spinosum, stratum granulosum, stratum Iucidum, dan
stratum corneum. Keratinisasi maturasi dan migrasi pada sel kulit, di mulai
pada lapisan yang paling dalam yaitu stratum basal atau germinativum. Sel ini dikatakan sebagai keratynocytes (sel kulit
yang yang Immatur ),berperan dalam merubah bentuk lapisan sel pada lapisan
granular kedalam lapisan sel yang sudah mati. Stratum basal ini adalah asal
mula untuk diperlukan sebagai regenerasi pada lapisan epidermis. Dalam proses
keratynocytes ini di produksi sejumlah filaments (tonofilaments atau
tonofibrils)yang di buat dari suatu protein yang disebut keratin dan dan
keratohyalin granules.
DERMIS
Lapisan
Dermis lebih tebal dari pada lapisan epidermis. Fungsi utama adalah sebagai
penyokon untuk epidermis . pada lapisan dermis strukturnya lebih kompleks dan
terdapat dua lapisan bagian superficial papillary dan bagian dalam reticular dermis. Pada
bagian papillary bersisi serabut kolagen yang tipis, serabut elastic, dan
serabut retikuler . kemudian pada lapisan reticular dermis terdapat serabut
kolagen yang tebal, juga pibroblast, sel mast, ujung saraf dan limpatik.
Pibroblost adalah tipe sel utama pada dermis . sel tersebut memproduksi dan
mensekresi prokolagen dan serabut elastic.
Sedangkan
fungsi dari dermis adalah untuk keseimbangan cairan melalui aliran darah kulit,
termoregulasi melalui pengontrolan aliran darah kulit dan juga sebagai faktor
pertumbuhan dan perbaikan dermal.
KELENJAR
KERINGAT EKSKRIN
Pengeluaran
keringat dari kelenjar ekskrin adalah proses pendinginan tubuh. Keringat di
produksi dalam suatu tubulus coiled dalam dermis dan ditransportasi oleh
saluran kelenjar keringat melalaui epidermis untuk dikeluarkan.
FOLIKEL
RAMBUT
Folikel
rambut di buat dari keratin, tertanam dalam epidermis dan dermis, kemudian
hypodermis. Folikel rambut ini di kelilingi oleh jaringan ikat fibrosa pada
dermis.
KELENJAR
KERINGAT APOKRIN
Kelenjar
apokrin ini di temukan pada lokasi aksila, areola putting susu, dan regional
anal. Apokrin juga di produksi dalam
tubulus coiled dalam dermis. Aktivitas bakteri pada kulit yang normal ada
hubungannya dengan pengeluaran keringat yang menyebabkan bau badan.
KELENJAR
SEBASEA
Kelenjar
ini memproduksi subtansi minyak yang disebut dengan sebum. Paling menyolok pada kulit bagian kepala, muka dan bahu atas.
Pada masa remaja kelenjar sebasea meningkat ukurannya dan sebum banyak
diproduksi dalam merespon tingkat hormonkhususnya androgen. Peran pentingnya
adalah dalam perkembangan jerawat.
LAPISAN
SUBKUTANEUS
Jaringan
subkutan adalah merupakan lapisan lemak
dan jaringan ikat yang banyak terdapat pembuluh darah dan saraf. Pada lapisan
ini penting untuk pengaturan temperature pada kulit. Lapisan ini di buat dari
kelompok jaringan adipose(sel lemak)yang
dipisahkan oleh fibrous septa. Sebagai bantalan jaringan yang lebih dalam dan
pada lapisan ini berfungsi sebagai pelindung tubuh terhadap dingin, serta
tempat penyimpanan bahan bakar.
KUKU
Kuku
adalah juga merupakan kulit yang berlokasi
pada akhir jari tangan dan kaki. Kuku ini berupa plat yangpadat yang
dibuat dari keratin. Kuku berkembang dari sel sel matrik kuku yang
berproliferasi dan menjadi kerati.kuku tumbuh rata-rata 0,1 mm perharinya, tapi
kuku pada jari kaki akan lebih lambat tumbuhnya . adapun fungsinya sebagai
penghias. Selain itu kuku pada jari
tangan juga dapat mengindentifikasi kesehatan seseorang dimana pada kuku yang
berwarna pink itu menandakan suplai oksigenisasi baik.
Anatomy of Normal skin
2. FISIOLOGI
PENYEMBUHAN LUKA
Penyembuhan luka adalah suatu
proses yang kompleks dengan melibatkan banyak sel. Proses yang dimaksudkan
disini karena penyembuhan luka beberapa luka melalui beberapa fase.
Fase tersebut
meliputi koagulasi, inflamasi , proliferasi, dan fase remodeling.
A. Tipe
Penyembuhan Luka
Terdapat
tiga macam penyembuhan luka, di mana pembagian ini di karakteristikkan dengan jumlah jaringan yang hilang.
a. Primary intention Healing
(penyembuhan luka primer) yaitu penyembuhan yang terjadi segera setelah
diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan.
b. Secondary intention Healing
(penyembuhan luka sekunder) yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan primer.
Di tandai dengan luka yang luas, hilangnya jaringan dengan jumlah yang besar,
proses penyembuhan lama dan luka biasanya tetap terbuka seperti luka DM,
Dekubitus, dll.
c. Tertiary intention Healing
(penyembuhan luka tersier ) yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa
hari setelah tindakan debridement, setelah diyakini bersih, tepi luka
dipertautkan (4-7 hari). Luka ini merupakan tipe penyembuhan yang terakhir.
Merupakan kegagalan dari primary ditandai dengan infeksi.
B. Fase
penyembuhan luka
a.
FASE
KOAGULASI
Pada fase koagulasi merupakan
awal proses penyembuhan luka dengan melibatkan platelet. Awal pengeluaran
platelet akan menyebabkan vasokonstriksi dan terjadi koagulasi. Proses ini adalah sebagai homeostasis dan
mencegah pendarahan yang lebih luas. Pada tahapan ini terjadi adhesi, agregasi
dan degranulasi pada sirkulasi platelet di dalam pembentukan gumpalan fibrin.
Untuk proses koagulasi ini ada manfaatnya akan tetapi pada perlukaan yang berat
seperti luka bakar yang luas akan berdampak negative pada suplai darah yaitu
bila terjadi koagulasi dapat mengakibatkan iskemik pada jaringan.
b.
FASE
INFLAMASI
Merupakan
tahap yang muncul segera setelah injury dan dapat melanjutkan sampai lima hari.
Berfungsi:
Ø Mengontrol perdarahan
Ø
Mencegah
infasi bakteri
Ø Menghilangkan debris dari
jaringan yang luka
Ø Mempersiapkan proses penyembuhan
lanjutan.
c.
FASE
PROLIFERASI
Tahap
penyembuhan dari hari ke 6 sampai dengan tiga minggu. Fibroblast (sel jaringan
penyambung ) memiliki peran yang besar. Sampai Ephitalisasi.
d.
FASE
MATURASI
Merupakan
tahap penyembuhan yang berlangsung mulai
pada hari ke 21 dan dapat
berlangsung berbulan-bulan (2 tahun) dan
berakhir bila tanda sudah hilang.
Dalam tahap ini terdapat remodelling
luka yang merupakan hasil dari
peningkatan jaringan kolagen berlebihan dan regresi vaskularisasi luka.
Bagan:
fisiologi penyembuhan luka
Injury
Homeostasis; koagulasi
agregasi platelet
Inflamasi;
granulosites, macrophag, pagositosis
Fibroblast
Epitelialisasi
Sintesis
kolagen dankontraksi Remodeling; adanya lisis dan sintesis kolagen
Peningkatan
serabut kolagen
penyembuhan
luka
3.
FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA
a. Faktor Intrinsik adalah faktor
dari penderita yang dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan meliputi: usia,
status nutrisi dan hidrasi, oksigenasi dan perfusi jaringan, status imonologi,
dan penyakit penyerta.
b. Faktor Ekstrinsik adalah faktor yang dapat
mempengaruhi dalam proses penyembuhan meliputi: pengobatan, radiasi, stress,
psikologis, infeksi, iskemia, dan trauma jaringan.
LUKA DECUBITUS
1. Definisi
Luka decubitus , sinonimnya adalah
pressure ulcer, bed sores, atau pressure sore. Luka decubitus adalah suatu area
yang terlokalisir dengan jaringan mengalami nekrosis yang biasanya terjadi pada
bagian permukaan tulang yang menonjol, sebagai akibat dari tekanan dalam
jangka waktu lama yang menyebabkan penimgkatan tekanan
kapiler.
2. Etiologi
Penyebab
dari luka decubitus dapat dibedakan menjadi dua faktor yaitu faktor Ekstrinsik
dan Faktor intrinsic.
1.
Faktor
Ekstrinsik
a.
Tekanan
Faktor
tekanan, terutama sekali bila tekanan tersebut terjadi dalam jangka waktu lama
yang menyebabkan jaringan mengalami iskemik.
b.
Pergesekan
dan pergeseran
Gaya
gesekan adalah sebagai faktor yang
menimbulkan luka iskemik (Richel 1958). Hal ini biasanya akan terjadi apabila
pasien di atas tempat tidur kemudian sering merosot, dan kulit sering kali
mengalami regangan dan tekanan mengakibatkan terjadinya iskemik pada jaringan.
c.
Kelembaban
Kondisi kulit pada pasien yang
sering mengalami lembab akan mengkontrabusi kulit menjadi maserasi kemudian
dengan adanya gesekan dan pergeseran, memudahkan kulit mengalami kerusakan .
kelembaban ini dapat akibat dari incontinensia, drain luka, banyak keringat dan
lainnya.
2.
Faktor
intrinsic
a.
Usia
Ini
juga dapat mempengaruhi terjadinya luka decubitus . usia lanjut mudah sekali
untuk terkena luka decubitus. Hal ini pada usia lanjut terjadiperubahan
kualitas kulit dimana adanya penurunan elastisitas dan kurangnya sirkulasi pada
dermis.
b.
Temperature
Kondisi
tubuh yang mengalami peningkatan temperature akan berpengaruh pada temperature
jaringan . setiap terjadi peningkatan metabolisme akan menaikkan satu derajat Celsius dalam temperature jaringan.
Hasil penelitian didapatkan bahwa adanya hubungan yang bermakana antara
peningkatan temperature tubuh dengan resiko terjadinya luka decubitus (Nancy
Bergstrom and beberapa Braden, 1992).
c.
Nutrisi
Nutrisi merupakan faktor yang
mengkontribusi terjanya luka decubitus.
Pada faktor ini ada juga yang masih belum sependapat nutrisi sebagai faktor
decubitus. Nmaun sebagian besar dari hasil penilitian mengatakan adanya
hubungan yang bermakna pada klien yang mengalami luka decubitus dengan
malnutrisi. Individu dengan tingkat serum albumin yang rendah terkait dengan
perkembangan terjadinya luka decubitus.
Hypoalbuminemia berhubungan dengan luka
decubitus pada pasien yang dirawat (Allman et al., 1986. Bergstrom, Norvel, and
Braden, 1988).
Adapun Faktor lainnya adalah
a.
Menurunnya
persepsi sensori
b.
Immobilisasi
dan
c.
Keterbatasan
aktivitas.
Ketiga faktor ini adalah dampak
dari pada lamanya dan intensitas tekanan pada bagian permukaan tulang yang
menonjol.
3.
Patofisiologi
Luka decubitus merupakan dampak dari tekanan yang terlalu lama pada
area permukaan tulang yang menonjol dan mengakibatkan berkurangnya sirkulasi
darah pada area yang tertekan dan lama kelamaan jaringan setempat mengalami
iskemik, hipoksia dan berkembang menjadi
nekrosis tekanan yang normal pada
kapiler adalah 32 mmHg.apabila tekanan kapiler melebihi dari tekanan darah dan
struktur pembuluh darah pada kulit , maka akan terjdi kolaps. Dengan terjadi
kolaps maka akan menghalangi oksigenisasi dan nutrisi kejaringan , selain itu
area yang tertekan menyebabkan terhambatnya aliran darah.
Bagan; alur fatofisiologi luka
decubitus
Tekanan yang
terlokalisir
Peningkatan
tekanan arteri kapiler pada kulit
Terhambatnya
aliran darah
Iskemik
Nekrosis
4.
Menifestasi klinis
Menifestasi klinis pada decubitus
untuk prtama kali ditandaidengan kulit eritema atau kemerahan. Terdapat cirri
khas di mana bila ditekan dengan jari, tanda eritema akan lama kembali lagi atau
persisten. Kemudian di ikuti dengan kulit mengalami edema, dan temperature di
area tersebut meningkat atau bila diraba akan terasa hangat. Tanda pada luka
decubitus ini akan dapat berkembang hingga sampai kejaringan otot dan tulang.
Luka decubitus ini dapat di bagi menjadi empat tingkatan yaitu:
a.
Tingkat
1. Adanya eritema atau kemerahan pada kulit setempat yang menetap , atau bila
di tekan dengan jari , tanda eritema atau kemerahan tidak kembali putih.
b.
Tingkat
II. Adanya kerusakan pada epithelial kulit yaitu lapisan epidermis dan Dermis.
Kemudian dapat di tandai dengan adanya luka lecet atau melepuh.
c.
Tingkat
III. Kerusakan pada semua lapisan kulit
atau sampai jaringan subkutan, dan mengalami jaringan Nekrosis dengan tanpa
kapitas yang dalam.
d.
Tingkat
IV. Adanya kerusakan pada ketebalan kulit dan nekrosis hingga sampai ke
jaringan otot bahkan tulang atau tendon dengan kapitas yang dalam.
Luka
decubitus dapat di cegah dengan memperhatikn beberapa faktor-faktor penyebab
dari luka decubitus (lihat faktor penyebab luka decubitus).
5. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian risiko
luka decubitus, di perlukan kejelian dari pada perawat terhadap kondisi pasien
dan mempertimbangkan kemungkinan risiko yang dapat mengkontribusi terjadi
decubitus. Berikut ini beberapa hal pentingyang perlu di perhatikan dalam
melakukan pengkajian risiko terjadinya luka decubitus.
a.
Perubahan
tingkat kesadaran
b.
Penyakit
gangguan persarafan, seperti stroke
c.
Trauma
tulang belakang
d.
Tirah
baring yang terlalu lama
e.
Immobilisasi
f.
Gangguan
sirkulasi
g.
Usia
h.
Anemia
i.
Status
Nutrisi (terutama sekali pada pasien yang hipoalbumin)
j.
Inkontinensia
k.
Kelembaban
l.
Matras
atau tempat tidur
m.
Tekanan
diastole berdasarkan hasil penelitian bahwa rendahnyatekanan diastole akan
berisiko untuk terjadinya luka decubitus .
n.
Perokok
o.
Pergesekan
dan pergeseran di atas tempat tidur.
Pada pengkajian luka decubitus
hal-hal yang perlu di kaji adalah; tingkatan luka decubitus, ukuran luka,
eksudat, peradangan atau infeksi , nekrosis jaringan dan granulasi. Hal ini
penting dalam penentuan perawatan luka decubitus.
6.
Diagnosa keperawatan
Diagnose keperawatan yang dapat
di tegakkan pada masalah actual maupun risiko adalah sebagai berikut;
1. Risiko luka decubitus berhubungan
dengan immobilisasi peningkatan tekanan pada arteri kapiler kulit sekunder dari
tekanan yang berlebihan, pergesekan, pergeseran, dan tekanan.
2. Kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan pergesekan dan tekanan.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan
kerusakan integritas kulit atau luka
decubitus
4. Nyeri berhubungan dengan luka
decubitus.
7. Intervensi
a. Mencegah terjadinya decubitus
1. Lakukan pengkajian pada klien
tentang riwayat kesehatan atau penyakit
2. Pada klien yang mengalami
gangguan mobilisasi atau terbatasnya kemampuan untuk bergerak, lakukan
penilaian dengan menggunakan skala barden. Skala ini untuk menilai risiko luka
decubitus.
3. Kaji penggunaan matras dan posisi
klien apakah cenderung terjadi pergesekan dan pergeseran di atas tempat
tidur.akan sering terjadi pergeseran dan pergesekan, dan tekanan apabila posisi
kepala pasien lebih tinggi atau dalam posisi setengah duduk.
4. Lakukakan pengkajian risiko terjadi
luka decubitus; immobilisasi, keterbtasan
aktivitas, status nutrisi, pergesekan dan pergeseran, kondisi kulit terutama di
bagian permukaan tulang yang menonjol,status kesadaran, dan kelembaban.
5. Hindari pasien dari dampak
tekanan yang berlebihan diatas tempat tidur atau kursi; tidur dengan miring
kiri kanan secara bergantian paling kurang setiap satu jam, setelah miring
kiri-kanan kemudian terlentang. Posisi badan miring kira-kira 30 derajat.
6. Menghindari tekanan yang
berlebihan dengan menggunakan matras khusus bila ada seperti matras udara, atau
matras air, atau lainnya yang dapat mengurangi tekanan pada area permukaan
tulang yang menonjol.
7. Sokong daerah lutut dan siku
dengan bantal atau busa, pada saat baring. Lihat gambar
Gambar:
pengaturan posisi yang dapat mengurangi tekanan.
8. Pertahankan posisi daerah kepala
tidak terlalu tinggi yang dapat menyebabkan tejadinya pergesekan dan pergeseran
kecuali ada pembatasan lain.
9. Hindari kulit dari kelembaban .
sesering mungkin kaji kondisi kulit. Dapat digunakan bila ada fasilitas tempat tidur seperti
matras udara atau matras air yang berisi air.
10. Pada pasien yang inkontinensia
akan berisiko tinggi terjadinya decubitus , untuk itu perlu penatalaksanaan
khusus pasien dengan inkontinensia urine atau fekal.
11. Hindari kulit dari kekeringan,
karena ini dapat mengkontrabusi mudah terjadinya pergesekan dan pergeseran.
Untuk menghindari terjadinya kekeringan kulit dapat menggunakan “hydrophilic cream” setelah mandi untuk mencegah kulit kering,
atau cream lainnya.
12. Hal-hal yang perlu diperhatikan
bila pasien duduk dikursi , postur tubuh, keseimbangan, stabilitas dan tekanan.
13. Berikan pemasukan nutrisi yang
mencukupi ; 30-35 kalori/kg BB,protein 1.25-1.5/kg BB.
14. Perlu di kaji serum albumin, pada
pasien yang malnutrisi bila serum albuminnya dibawah 3.5 mg/dl.
b.
Meningkatkan
integritas kulit dan mencegah infeksi
1. Pengkajian awal; lokasi luka,
tingkatan decubitus, ukuran (panjang, lebar, dan kedalaman), eksudat, jaringan
nekrosisis, peradangan atau infeksi, kemudian granulasi dan epitelialisasi.
2. Kaji risiko komplikasi dari
decubitus seperti; amyloidosis, endokarditis, meningitis, septic arthritis,
squamous cell carcinoma pada luka, dan perhatikan komplikasi penggunaan obat
topical.
3. Kaji status nutrisi; serum
albumin
4. Berikan nutrisi yang mencukupi
30-35 kalori/kg BB. Protein 1.25-1.5/kg BB, atau dapat di tingkatkan 2.00 gram
protein/kg/hari. Kemudian vitamin C, seng, dan zat besi.
Perawatan
luka Decubitus
Pada
perawatan luka decubitus mencakup prinsif ; debridement pembersihan dan
dressing.
1.
Debridement
Luka decubitus yang mengalami
nekrosis akan sukar mengalami penyembuhan, oleh karena itu perlu di lakukan
debridement untuk mencegah infeksi yang lebih luas. Pada prinsif debridement
yang perlu di perhatikan adalah kondisi pasien dan kondisi luka . debridement
di sini adalah mengangkat jaringan yang
sudah mengalami nekrosis dan untuk menyokong pertumbuhan atau pemulihan luka.
Adapun tipe dari debridement ada
beberapa cara di antaranya secara
mekanik yaitu dengan kompres basah-kering. Rasional untuk di lakukan
debridement adalah mengurangi perluasan pada luka, control dan pencegahan
infeksi, dan visualisasi dasar luka. Indikasi
untuk debridement adalah luka yang akut atau kronik dengan jaringan
nekrosis, luka yang terinfeksi dengan jaringan nekrotik. Adapun
kontraindikasinya luka yang tidak terinfeksi , kering, da luka iskemik yang
stabil.
2.
Dressing
Dressing adalah suatu usaha untuk
mempertahankan integritas fisiologi pada
luka . sebelum melakukan dressing atau balutan dan pengobatan luka di perlukan pengkajian
pada kondisi luka hal ini adalah untuk
menentukan tipe dressing atau balutan yang dibutuhkan. Perawatan luka pada
decubitus adalah berdasarkan pada derajat luka decubitus, eksudat, sekeliling
luka, dan ada tidaknya infeksi. Beberapa hal yang perlu di ketahui pada balutan
adalah terdapat beberapa tipe balutan.tipe balutan atau dressing tersebut
adalah dressing yang sifatnya kering; basah; basah –lembab atau basah kering.
Ada juga balutan untuk pelindung luka dan dressing yang sifatnya menyerap dan
mengabsorbsi.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Luka
decubitus , sinonimnya adalah pressure ulcer, bed sores, atau pressure
sore. Luka decubitus adalah suatu area yang terlokalisir dengan jaringan
mengalami nekrosis yang biasanya terjadi pada bagian permukaan tulang yang
menonjol, sebagai akibat dari tekanan dalam jangka waktu
lama yang menyebabkan penimgkatan tekanan kapiler. Etiologi dari penyakit luka decubitus terbagi atas dua faktor
yaitu faktor intrinsic dan ekstrinsik.
Patofisiologi dari luka decubitus merupakan dampak dari tekanan yang
terlalu lama pada area permukaan tulang yang menonjol dan mengakibatkan
berkurangnya sirkulasi darah pada area yang tertekan lama. Luka dekubitus
terbagi atas empat stadium. Yaitu stadium satu sampai stadium empat.
Saran
Sebagai
seorang tenaga kesehatan yang mengetahui faktor penyebab terjadinya luka
decubitus sebaiknya pasien di anjurkan menghindari tekananan yang
terlalu lama karena akan menyebabkan luka pada area tulang yang menonjol, untuk
menghindarinya sebaiknya menyarankan pasien tidur dengan posisi sim dan
bagian-bagian tubuh yang memiliki tonjolan tulang yang bisa di curigai dapat
menyebabkan luka decubitus. Sebaiknya diberi alas seperti handuk untuk
mengurangi tekanan pada area antara lain seperti bokong.
DAFTAR PUSTAKA
American
RedCross Staff. (1992). Standard first
aid. St. Louis: Mosby Yearbook.
Condon
RE, Haley RW, Lee JT, Meakins JL. (1988). Does
infection control control infection? Arch Surg: 123 250-256.
Gorbach
SL, Bartlett JG, Nichols RL. (1984). Manual
of surgical infections. Boston/Toronto: Little, Brown and Co.
Gorbach
SL, Bartlett JG, Nichols RL. (1984). Manual
of surgical infections. Boston: Little, Brown and Co:405