Senin, 05 Desember 2016

Perawatan Luka Decubitus



Kata pengantar
            Puji syukur atas kehadirat Allah yang maha kuasa atas Berkat Rahmat dan Hidayahnyalah  sehingga saya dapat menyelesaikan ARTICLE ini  yang ber Tema “Perawatan luka ” dan adapun judul yang saya angkat yaitu luka “Decubitus” .
            Dalam Article ini pertama-tama menyajikan konsep dasar anatomi dan fisiologi  kulit dan fisiologi penyembuhan luka, kemudian membahas konsep dasar berdasarkan konsep lukanya, dan perawatan yang mencakup diagnose  keperawatan dan intervensi.
            Manfaat dari Article  “Perawatan luka Decubitus”  ini adalah sebagai pemehaman bagi perawat khususnya dalam mengenal beberapa jenis luka dan penatalaksanaanya.
            Setelah membaca Article  ini dengan seksama di harapkan pembaca mudah memahami dan mengaplikasikannya dalam praktik klinik keperawatan.
            Dalam penulisan Article ini tentunya masih banyak kekurangannya baik dari segi isi materi maupun dalam penampilannya , penulis sangat mengharapkan kritikan dan masukan dari pembaca untuk perbaikan pada edisi selanjutnya


Penulis












Daftar isi
Kata pengantar ........................................................................................................................ 
 Daftar isi               
BAB1                                 
PENDAHULUAN.....................................................................................................................         
A.     Latar Belakang...............................................................................................................
B.     Rumusan Masalah.........................................................................................................
C.     Tujuan ..........................................................................................................................    
BAB II
KAJIAN PUSTAKA................................................................................................................
Pengantar Anatomi dan Fisiologi Kulit.......................................................................................
Fisiologi Penyembuhan Luka.....................................................................................................
a.       Tipe Penyembuhan Luka...............................................................................................
b.      Fase Penyembuhan Luka...............................................................................................
Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka.......................................................................    
 Luka Decubitus   
1.       Definisi................................................................................................................................
2.        Etiologi ..............................................................................................................................
3.       Fatofisiologi.........................................................................................................................
4.       Manifestasi klinis.................................................................................................................
5.       Pengkajian...........................................................................................................................
6.       Diagnose keperawatan ........................................................................................................
7.       Intervensi ............................................................................................................................         
Perawatan Luka Dekubitus........................................................................................................
1.       Debridement .................................................................................................................
2.       Dressing ........................................................................................................................
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan……………………………………………………………………………………………                 
B.     Saran……………………………………………………….………………………………………….
DAFTAR  PUSTAKA…………………………………………………………………………………                 
                                                                                                                                                           










BAB 1
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
      Luka decubitus , sinonimnya adalah pressure ulcer, bed sores, atau pressure sore. Luka decubitus adalah suatu area yang terlokalisir dengan jaringan mengalami nekrosis yang biasanya terjadi pada bagian permukaan tulang yang menonjol, sebagai akibat dari tekanan dalam jangka  waktu  lama yang menyebabkan penimgkatan tekanan kapiler.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Anatomi dan Fisiologi Kulit?
2.      Bagaimana Fisiologi Penyembuhan Luka?
3.      Bagaimana Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan  Luka?
4.      Apa itu Luka Decubitus?
5.      Bagaimana Perawatan luka Decubitus?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui Anatomi dan Fisiologi Kulit.
2.      Untuk mengetahui Fisiologi Penyembuhan Luka.
3.      Untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Perawatan Luka.
4.      Untuk mengetahui tentang Luka Decubitus.
5.      Untuk mengetahui Perawatan Luka Decubitus.


























BAB II
KAJIAN PUSTAKA
PERAWATAN LUKA DECUBITUS
1.      ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT
Kulit merupakan organ yang cukup luas yang terdapat di permukaan tubuh, dan berfungsi sebagai pelindung untuk  menjaga jaringan internal dari trauma, bahaya radiasi ultraviolet temperature yang ekstrim, toksin dan bakteri.
Kulit terdiri dari beberapa lapisan; epidermis, dermis dan lapisan jaringan subkutaneus.
EPIDERMIS
            Epidermis adalah erupakan lapisan bagian luar kulit. Ketebalan dari dari epidermis ini bervariasi tergantung pada tipe kulit. Pada bagian epidermis terdapat  5(lima) lapisan mulai dari bawah sampai ke atas  yaitu stratum basale atau germinativum. Stratum spinosum, stratum granulosum, stratum Iucidum, dan stratum corneum. Keratinisasi maturasi dan migrasi pada sel kulit, di mulai pada lapisan yang paling dalam yaitu stratum basal atau germinativum.  Sel ini dikatakan sebagai keratynocytes (sel kulit yang yang Immatur ),berperan dalam merubah bentuk lapisan sel pada lapisan granular kedalam lapisan sel yang sudah mati. Stratum basal ini adalah asal mula untuk diperlukan sebagai regenerasi pada lapisan epidermis. Dalam proses keratynocytes ini di produksi sejumlah filaments (tonofilaments atau tonofibrils)yang di buat dari suatu protein yang disebut keratin dan dan keratohyalin granules.
DERMIS
            Lapisan Dermis lebih tebal dari pada lapisan epidermis. Fungsi utama adalah sebagai penyokon untuk epidermis . pada lapisan dermis strukturnya lebih kompleks dan terdapat dua lapisan bagian superficial papillary  dan bagian dalam reticular dermis. Pada bagian papillary bersisi serabut kolagen yang tipis, serabut elastic, dan serabut retikuler . kemudian pada lapisan reticular dermis terdapat serabut kolagen yang tebal, juga pibroblast, sel mast, ujung saraf dan limpatik. Pibroblost adalah tipe sel utama pada dermis . sel tersebut memproduksi dan mensekresi prokolagen dan serabut elastic.
            Sedangkan fungsi dari dermis adalah untuk keseimbangan cairan melalui aliran darah kulit, termoregulasi melalui pengontrolan aliran darah kulit dan juga sebagai faktor pertumbuhan dan perbaikan dermal.
KELENJAR KERINGAT EKSKRIN
            Pengeluaran keringat dari kelenjar ekskrin adalah proses pendinginan tubuh. Keringat di produksi dalam suatu tubulus coiled dalam dermis dan ditransportasi oleh saluran kelenjar keringat melalaui epidermis untuk dikeluarkan.


FOLIKEL RAMBUT
            Folikel rambut di buat dari keratin, tertanam dalam epidermis dan dermis, kemudian hypodermis. Folikel rambut ini di kelilingi oleh jaringan ikat fibrosa pada dermis.

KELENJAR KERINGAT APOKRIN
            Kelenjar apokrin ini di temukan pada lokasi aksila, areola putting susu, dan regional anal. Apokrin juga di produksi  dalam tubulus coiled dalam dermis. Aktivitas bakteri pada kulit yang normal ada hubungannya dengan pengeluaran keringat yang menyebabkan bau badan.
KELENJAR SEBASEA
            Kelenjar ini memproduksi subtansi minyak yang disebut dengan sebum. Paling menyolok  pada kulit bagian kepala, muka dan bahu atas. Pada masa remaja kelenjar sebasea meningkat ukurannya dan sebum banyak diproduksi dalam merespon tingkat hormonkhususnya androgen. Peran pentingnya adalah dalam perkembangan jerawat.
LAPISAN SUBKUTANEUS
             Jaringan subkutan  adalah merupakan lapisan lemak dan jaringan ikat yang banyak terdapat pembuluh darah dan saraf. Pada lapisan ini penting untuk pengaturan temperature pada kulit. Lapisan ini di buat dari kelompok  jaringan adipose(sel lemak)yang dipisahkan oleh fibrous septa. Sebagai bantalan jaringan yang lebih dalam dan pada lapisan ini berfungsi sebagai pelindung tubuh terhadap dingin, serta tempat penyimpanan bahan bakar.
KUKU
            Kuku adalah juga merupakan kulit yang berlokasi  pada akhir jari tangan dan kaki. Kuku ini berupa plat yangpadat yang dibuat dari keratin. Kuku berkembang dari sel sel matrik kuku yang berproliferasi dan menjadi kerati.kuku tumbuh rata-rata 0,1 mm perharinya, tapi kuku pada jari kaki akan lebih lambat tumbuhnya . adapun fungsinya sebagai penghias.  Selain itu kuku pada jari tangan juga dapat mengindentifikasi kesehatan seseorang dimana pada kuku yang berwarna pink itu menandakan suplai oksigenisasi baik.






Anatomy of Normal skin


2.      FISIOLOGI PENYEMBUHAN LUKA
Penyembuhan luka adalah suatu proses yang kompleks dengan melibatkan banyak sel. Proses yang dimaksudkan disini karena penyembuhan luka beberapa luka melalui beberapa fase.
Fase  tersebut  meliputi koagulasi, inflamasi , proliferasi, dan fase remodeling.

A.     Tipe Penyembuhan Luka
Terdapat tiga macam penyembuhan luka, di mana pembagian ini di karakteristikkan  dengan jumlah jaringan yang hilang.
a.       Primary intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu penyembuhan yang terjadi segera setelah diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan.
b.      Secondary intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan primer. Di tandai dengan luka yang luas, hilangnya jaringan dengan jumlah yang besar, proses penyembuhan lama dan luka biasanya tetap terbuka seperti luka DM, Dekubitus, dll.
c.       Tertiary intention Healing (penyembuhan luka tersier ) yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement, setelah diyakini bersih, tepi luka dipertautkan (4-7 hari). Luka ini merupakan tipe penyembuhan yang terakhir. Merupakan kegagalan dari primary ditandai dengan infeksi. 

B.     Fase penyembuhan luka
a.       FASE KOAGULASI
Pada fase koagulasi merupakan awal proses penyembuhan luka dengan melibatkan platelet. Awal pengeluaran platelet akan menyebabkan vasokonstriksi dan terjadi koagulasi.  Proses ini adalah sebagai homeostasis dan mencegah pendarahan yang lebih luas. Pada tahapan ini terjadi adhesi, agregasi dan degranulasi pada sirkulasi platelet di dalam pembentukan gumpalan fibrin. Untuk proses koagulasi ini ada manfaatnya akan tetapi pada perlukaan yang berat seperti luka bakar yang luas akan berdampak negative pada suplai darah yaitu bila terjadi koagulasi dapat mengakibatkan iskemik pada jaringan.
b.      FASE INFLAMASI
Merupakan tahap yang muncul segera setelah injury dan dapat melanjutkan sampai lima hari.
Berfungsi:
Ø    Mengontrol perdarahan
Ø    Mencegah infasi bakteri
Ø    Menghilangkan debris dari jaringan yang luka
Ø    Mempersiapkan proses penyembuhan lanjutan.
c.                   FASE PROLIFERASI
Tahap penyembuhan dari hari ke 6 sampai dengan tiga minggu. Fibroblast (sel jaringan penyambung ) memiliki peran yang besar. Sampai Ephitalisasi.
d.                  FASE MATURASI
Merupakan tahap penyembuhan yang berlangsung mulai  pada  hari ke 21 dan dapat berlangsung berbulan-bulan (2 tahun)  dan berakhir bila tanda sudah hilang.
            Dalam tahap ini terdapat remodelling luka  yang merupakan hasil dari peningkatan jaringan kolagen berlebihan dan regresi vaskularisasi luka.

Bagan: fisiologi penyembuhan luka
Injury

Homeostasis; koagulasi agregasi platelet

Inflamasi; granulosites, macrophag, pagositosis


                                                             Fibroblast

                                                            Epitelialisasi

Sintesis kolagen dankontraksi Remodeling; adanya lisis dan sintesis kolagen
           
                                                Peningkatan serabut kolagen
           
                                                                        penyembuhan luka
3.      FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN  LUKA
a.       Faktor Intrinsik adalah faktor dari penderita yang dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan meliputi: usia, status nutrisi dan hidrasi, oksigenasi dan perfusi jaringan, status imonologi, dan penyakit penyerta.
b.      Faktor  Ekstrinsik adalah faktor yang dapat mempengaruhi dalam proses penyembuhan meliputi: pengobatan, radiasi, stress, psikologis, infeksi, iskemia, dan trauma jaringan.

LUKA DECUBITUS
1.      Definisi
            Luka decubitus , sinonimnya adalah pressure ulcer, bed sores, atau pressure sore. Luka decubitus adalah suatu area yang terlokalisir dengan jaringan mengalami nekrosis yang biasanya terjadi pada bagian permukaan tulang yang menonjol, sebagai akibat dari tekanan dalam jangka  waktu  lama yang menyebabkan penimgkatan tekanan kapiler.

2.      Etiologi
Penyebab dari luka decubitus dapat dibedakan menjadi dua faktor yaitu faktor Ekstrinsik dan Faktor intrinsic.
1.                  Faktor Ekstrinsik
a.                   Tekanan
Faktor tekanan, terutama sekali bila tekanan tersebut terjadi dalam jangka waktu lama yang menyebabkan jaringan mengalami iskemik.
b.                  Pergesekan dan pergeseran
Gaya gesekan adalah sebagai  faktor yang menimbulkan luka iskemik (Richel 1958). Hal ini biasanya akan terjadi apabila pasien di atas tempat tidur kemudian sering merosot, dan kulit sering kali mengalami regangan dan tekanan mengakibatkan terjadinya iskemik pada jaringan.
c.                   Kelembaban
            Kondisi kulit pada pasien yang sering mengalami lembab akan mengkontrabusi kulit menjadi maserasi kemudian dengan adanya gesekan dan pergeseran, memudahkan kulit mengalami kerusakan . kelembaban ini dapat akibat dari incontinensia, drain luka, banyak keringat dan lainnya.

2.                  Faktor intrinsic
a.                   Usia
Ini juga dapat mempengaruhi terjadinya luka decubitus . usia lanjut mudah sekali untuk terkena luka decubitus. Hal ini pada usia lanjut terjadiperubahan kualitas kulit dimana adanya penurunan elastisitas dan kurangnya sirkulasi pada dermis.
b.                  Temperature
Kondisi tubuh yang mengalami peningkatan temperature akan berpengaruh pada temperature jaringan . setiap terjadi peningkatan metabolisme akan menaikkan satu derajat Celsius dalam temperature jaringan. Hasil penelitian didapatkan bahwa adanya hubungan yang bermakana antara peningkatan temperature tubuh dengan resiko terjadinya luka decubitus (Nancy Bergstrom and beberapa Braden, 1992).
c.                   Nutrisi
            Nutrisi merupakan faktor yang mengkontribusi  terjanya luka decubitus. Pada faktor ini ada juga yang masih belum sependapat nutrisi sebagai faktor decubitus. Nmaun sebagian besar dari hasil penilitian mengatakan adanya hubungan yang bermakna pada klien yang mengalami luka decubitus dengan malnutrisi. Individu dengan tingkat serum albumin yang rendah terkait dengan perkembangan terjadinya luka  decubitus. Hypoalbuminemia  berhubungan dengan luka decubitus pada pasien yang dirawat (Allman et al., 1986. Bergstrom, Norvel, and Braden, 1988).

Adapun Faktor lainnya adalah
a.                   Menurunnya persepsi sensori
b.                  Immobilisasi dan
c.                   Keterbatasan aktivitas.
Ketiga faktor ini adalah dampak dari pada lamanya dan intensitas tekanan pada bagian permukaan tulang yang menonjol.
3.      Patofisiologi
            Luka decubitus merupakan  dampak dari tekanan yang terlalu lama pada area permukaan tulang yang menonjol dan mengakibatkan berkurangnya sirkulasi darah pada area yang tertekan dan lama kelamaan jaringan setempat mengalami iskemik,  hipoksia dan berkembang menjadi nekrosis  tekanan yang normal pada kapiler adalah 32 mmHg.apabila tekanan kapiler melebihi dari tekanan darah dan struktur pembuluh darah pada kulit , maka akan terjdi kolaps. Dengan terjadi kolaps maka akan menghalangi oksigenisasi dan nutrisi kejaringan , selain itu area yang tertekan menyebabkan terhambatnya aliran darah.








Bagan; alur fatofisiologi luka decubitus  
                                    Tekanan yang terlokalisir


                        Peningkatan tekanan arteri kapiler pada kulit  
           

                                    Terhambatnya aliran darah

                                                       Iskemik
   

                                                                                          Nekrosis

4.      Menifestasi klinis
            Menifestasi klinis pada decubitus untuk prtama kali ditandaidengan kulit eritema atau kemerahan. Terdapat cirri khas di mana bila ditekan dengan jari, tanda eritema akan lama kembali lagi atau persisten. Kemudian di ikuti dengan kulit mengalami edema, dan temperature di area tersebut meningkat atau bila diraba akan terasa hangat. Tanda pada luka decubitus ini akan dapat berkembang hingga sampai kejaringan otot dan tulang. Luka decubitus ini dapat di bagi menjadi empat tingkatan yaitu:
a.       Tingkat 1. Adanya eritema atau kemerahan pada kulit setempat yang menetap , atau bila di tekan dengan jari , tanda eritema atau kemerahan tidak kembali putih.
b.      Tingkat II. Adanya kerusakan pada epithelial kulit yaitu lapisan epidermis dan Dermis. Kemudian dapat di tandai dengan adanya luka lecet atau melepuh.
c.       Tingkat III.  Kerusakan pada semua lapisan kulit atau sampai jaringan subkutan, dan mengalami jaringan Nekrosis dengan tanpa kapitas yang dalam.
d.      Tingkat IV. Adanya kerusakan pada ketebalan kulit dan nekrosis hingga sampai ke jaringan otot bahkan tulang atau tendon dengan kapitas yang dalam.


Luka decubitus dapat di cegah dengan memperhatikn beberapa faktor-faktor penyebab dari luka decubitus (lihat faktor penyebab luka decubitus).
5.      Pengkajian
            Dalam melakukan pengkajian risiko luka decubitus, di perlukan kejelian dari pada perawat terhadap kondisi pasien dan mempertimbangkan kemungkinan risiko yang dapat mengkontribusi terjadi decubitus. Berikut ini beberapa hal pentingyang perlu di perhatikan dalam melakukan pengkajian risiko terjadinya luka decubitus.
a.       Perubahan tingkat kesadaran
b.      Penyakit gangguan persarafan, seperti stroke
c.       Trauma tulang belakang
d.      Tirah baring yang terlalu lama
e.       Immobilisasi
f.       Gangguan sirkulasi
g.       Usia
h.      Anemia
i.        Status Nutrisi (terutama sekali pada pasien yang hipoalbumin)
j.        Inkontinensia
k.      Kelembaban
l.        Matras atau tempat tidur
m.    Tekanan diastole berdasarkan hasil penelitian bahwa rendahnyatekanan diastole akan berisiko untuk terjadinya luka decubitus .
n.      Perokok
o.      Pergesekan dan pergeseran di atas tempat tidur.

Pada pengkajian luka decubitus hal-hal yang perlu di kaji adalah; tingkatan luka decubitus, ukuran luka, eksudat, peradangan atau infeksi , nekrosis jaringan dan granulasi. Hal ini penting dalam penentuan perawatan luka decubitus.


6.      Diagnosa keperawatan
Diagnose keperawatan yang dapat di tegakkan pada masalah actual maupun risiko adalah sebagai berikut;
1.      Risiko luka decubitus berhubungan dengan immobilisasi peningkatan tekanan pada arteri kapiler kulit sekunder dari tekanan yang berlebihan, pergesekan, pergeseran, dan tekanan.
2.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pergesekan dan tekanan.
3.      Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan integritas kulit  atau luka decubitus
4.      Nyeri berhubungan dengan luka decubitus.

7.      Intervensi
a.       Mencegah terjadinya decubitus
1.      Lakukan pengkajian pada klien tentang  riwayat kesehatan atau penyakit
2.      Pada klien yang mengalami gangguan mobilisasi atau terbatasnya kemampuan untuk bergerak, lakukan penilaian dengan menggunakan skala barden. Skala ini untuk menilai risiko luka decubitus.
3.      Kaji penggunaan matras dan posisi klien apakah cenderung terjadi pergesekan dan pergeseran di atas tempat tidur.akan sering terjadi pergeseran dan pergesekan, dan tekanan apabila posisi kepala pasien lebih tinggi atau dalam posisi setengah duduk.
4.      Lakukakan pengkajian risiko terjadi luka decubitus;  immobilisasi, keterbtasan aktivitas, status nutrisi, pergesekan dan pergeseran, kondisi kulit terutama di bagian permukaan tulang yang menonjol,status kesadaran, dan kelembaban.
5.      Hindari pasien dari dampak tekanan yang berlebihan diatas tempat tidur atau kursi; tidur dengan miring kiri kanan secara bergantian paling kurang setiap satu jam, setelah miring kiri-kanan kemudian terlentang. Posisi badan miring kira-kira 30 derajat.
6.      Menghindari tekanan yang berlebihan dengan menggunakan matras khusus bila ada seperti matras udara, atau matras air, atau lainnya yang dapat mengurangi tekanan pada area permukaan tulang yang menonjol.
7.      Sokong daerah lutut dan siku dengan bantal atau busa, pada saat baring. Lihat gambar
Gambar: pengaturan posisi yang dapat mengurangi tekanan.

8.      Pertahankan posisi daerah kepala tidak terlalu tinggi yang dapat menyebabkan tejadinya pergesekan dan pergeseran kecuali ada pembatasan lain.
9.      Hindari kulit dari kelembaban . sesering mungkin kaji kondisi kulit. Dapat digunakan  bila ada fasilitas tempat tidur seperti matras udara atau matras air yang berisi air.
10.  Pada pasien yang inkontinensia akan berisiko tinggi terjadinya decubitus , untuk itu perlu penatalaksanaan khusus pasien dengan inkontinensia urine atau fekal.
11.  Hindari kulit dari kekeringan, karena ini dapat mengkontrabusi mudah terjadinya pergesekan dan pergeseran. Untuk menghindari terjadinya kekeringan kulit dapat menggunakan “hydrophilic cream setelah mandi untuk mencegah kulit kering, atau cream lainnya.
12.  Hal-hal yang perlu diperhatikan bila pasien duduk dikursi , postur tubuh, keseimbangan, stabilitas dan tekanan.
13.  Berikan pemasukan nutrisi yang mencukupi ; 30-35 kalori/kg BB,protein 1.25-1.5/kg BB.
14.  Perlu di kaji serum albumin, pada pasien yang malnutrisi bila serum albuminnya dibawah 3.5 mg/dl.

b.      Meningkatkan integritas kulit dan mencegah infeksi
1.      Pengkajian awal; lokasi luka, tingkatan decubitus, ukuran (panjang, lebar, dan kedalaman), eksudat, jaringan nekrosisis, peradangan atau infeksi, kemudian granulasi dan epitelialisasi.
2.      Kaji risiko komplikasi dari decubitus seperti; amyloidosis, endokarditis, meningitis, septic arthritis, squamous cell carcinoma pada luka, dan perhatikan komplikasi penggunaan obat topical.
3.      Kaji status nutrisi; serum albumin
4.      Berikan nutrisi yang mencukupi 30-35 kalori/kg BB. Protein 1.25-1.5/kg BB, atau dapat di tingkatkan 2.00 gram protein/kg/hari. Kemudian vitamin C, seng, dan zat besi.






Perawatan luka Decubitus
Pada perawatan luka decubitus mencakup prinsif ; debridement pembersihan dan dressing.

1.                  Debridement
           Luka decubitus yang mengalami nekrosis akan sukar mengalami penyembuhan, oleh karena itu perlu di lakukan debridement untuk mencegah infeksi yang lebih luas. Pada prinsif debridement yang perlu di perhatikan adalah kondisi pasien dan kondisi luka . debridement di sini adalah mengangkat  jaringan yang sudah mengalami nekrosis dan untuk menyokong pertumbuhan atau pemulihan luka.
           Adapun tipe dari debridement ada beberapa cara  di antaranya secara mekanik yaitu dengan kompres basah-kering. Rasional untuk di lakukan debridement adalah mengurangi perluasan pada luka, control dan pencegahan infeksi, dan visualisasi dasar luka. Indikasi  untuk debridement adalah luka yang akut atau kronik dengan jaringan nekrosis, luka yang terinfeksi dengan jaringan nekrotik. Adapun kontraindikasinya luka yang tidak terinfeksi , kering, da luka iskemik yang stabil.

2.               Dressing
           Dressing adalah suatu usaha untuk mempertahankan integritas  fisiologi pada luka . sebelum melakukan dressing atau balutan dan pengobatan luka di perlukan pengkajian pada kondisi luka  hal ini adalah untuk menentukan tipe dressing atau balutan yang dibutuhkan. Perawatan luka pada decubitus adalah berdasarkan pada derajat luka decubitus, eksudat, sekeliling luka, dan ada tidaknya infeksi. Beberapa hal yang perlu di ketahui pada balutan adalah terdapat beberapa tipe balutan.tipe balutan atau dressing tersebut adalah dressing yang sifatnya kering; basah; basah –lembab atau basah kering. Ada juga balutan untuk pelindung luka dan dressing yang sifatnya menyerap dan mengabsorbsi.






















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Luka decubitus , sinonimnya adalah pressure ulcer, bed sores, atau pressure sore. Luka decubitus adalah suatu area yang terlokalisir dengan jaringan mengalami nekrosis yang biasanya terjadi pada bagian permukaan tulang yang menonjol, sebagai akibat dari tekanan dalam jangka  waktu  lama yang menyebabkan penimgkatan tekanan kapiler. Etiologi dari penyakit luka decubitus terbagi atas dua faktor yaitu faktor intrinsic dan ekstrinsik. Patofisiologi dari luka decubitus merupakan dampak dari tekanan yang terlalu lama pada area permukaan tulang yang menonjol dan mengakibatkan berkurangnya sirkulasi darah pada area yang tertekan lama. Luka dekubitus terbagi atas empat stadium. Yaitu stadium satu sampai stadium empat. 


Saran
            Sebagai seorang tenaga kesehatan yang mengetahui faktor penyebab terjadinya  luka  decubitus sebaiknya pasien di anjurkan menghindari tekananan yang terlalu lama karena akan menyebabkan luka pada area tulang yang menonjol, untuk menghindarinya sebaiknya menyarankan pasien tidur dengan posisi sim dan bagian-bagian tubuh yang memiliki tonjolan tulang yang bisa di curigai dapat menyebabkan luka decubitus. Sebaiknya diberi alas seperti handuk untuk mengurangi tekanan pada area antara lain seperti bokong.























DAFTAR PUSTAKA
American RedCross Staff. (1992). Standard first aid. St. Louis: Mosby Yearbook.
Condon RE, Haley RW, Lee JT, Meakins JL. (1988). Does infection control control infection? Arch Surg: 123 250-256.
Gorbach SL, Bartlett JG, Nichols RL. (1984). Manual of surgical infections. Boston/Toronto: Little, Brown and Co.
Gorbach SL, Bartlett JG, Nichols RL. (1984). Manual of surgical infections. Boston: Little, Brown and Co:405

Tidak ada komentar:

Posting Komentar